“Aku hanya boleh minta pada Allah…”

“Aku hanya boleh minta pada Allah…”

Sering kan anak-anak kita meminta sesuatu pada kita, bahkan kadang sambil merengek atau bahkan menangis marah agar kita menuruti apapun keinginannya, entah itu mainan, makanan, hiburan, atau apapun itu. Sesekali kita pasti menurutinya tapi jika kita selalu menurutinya maka akan tercetak dalam benak anak bahwa semua yang “aku inginkan pasti aku dapatkan”. Dan saya rasa itu kurang baik untuk perkembangan jiwanya bukan…

Dan kebetulan beberapa hari ini mas Aakif selalu meminta kaos dengan kriteria yang dia inginkan. Sesuai dengan fitrah anak dia akan terus mengulang-ulang permintaan hingga ia mendapatkannnya. Sebenarnya cukup mudah mengabulkan keinginannya tinggal buka aplikasi dan lakukan pembayaran maka sampailah kaos itu di rumah. Tapi saya terbersit untuk mengajarkan dia sesuatu, yaitu meminta sesuatu hanya pada Allah bukan pada makhluk seperti uminya…

Seperti biasa egonya bergejolak, dia hendak menolak tapi saya ingatkan lagi siapa yang Maha Kuasa Maha Mampu Mewujudkan dan saya ingatkan juga bahwa uminya, abinya dan semua orang yang ia temui hanyalah makhluk yang tidak memiliki daya apapun jika Allah tidak menghendaki. Jadi dia akan berfikir tentang siapa yang seharusnya ia mintai. Apakah itu tidak bukan bahasan yang terlalu tinggi untuk disampaikan pada anak-anak? Buat saya tidak, karena saya ingin menanamkan pada mereka bahwa hanya pada Allah kita meminta dan jika Allah mengabulkan maka Allah akan membuat makhluknya menjadi perantara terwujudnya keinginan kita. Saya hanya ingin membiasakan pada anak hanya pada Allah kita bergantung bukan pada makhluk, karena ketika bersandar pada makhluk yang didapat hanya rasa kecewa dan sedih jika tidak sesuai dengan yang kita inginkan…

Bukankah itu juga terdapat dalam surat Al Ikhlas: 2

اللَّهُ الصَّمَدُ (2)

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masiir mengatakan bahwa makna Ash Shomad ada empat pendapat:

Pertama, Ash Shomad bermakna:أنه السيِّد الذي يُصْمَدُ إليه في الحوائج

Allah adalah As Sayid (penghulu), tempat makhluk menyandarkan segala hajat pada-Nya.

Kedua, Ash Shomad bermakna:أنه الذي لا جوف له

Allah tidak memiliki rongga (perut).

Ketiga, Ash Shomad bermakna:أنه الدائم

Allah itu Maha Kekal.

Keempat, Ash Shomad bermakna:الباقي بعد فناء الخلق

Allah itu tetap kekal setelah para makhluk binasa.

Dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) disebutkan beberapa perkataan ahli tafsir yakni sebagai berikut.
Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah :الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ

Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.

Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas mengatakan mengenai(اللَّهُ الصَّمَدُ) :هو السيد الذي قد كمل في سؤدده، والشريف الذي قد كمل في شرفه، والعظيم الذي قد كمل في عظمته، والحليم الذي قد كمل في حلمه، والعليم الذي قد كمل في علمه، والحكيم الذي قد كمل في حكمته وهو الذي قد كمل في أنواع الشرف والسؤدد، وهو الله سبحانه، هذه صفته لا تنبغي إلا له، ليس له كفء، وليس كمثله شيء، سبحان الله الواحد القهار.

Dia-lah As Sayyid (Pemimpin) yang kekuasaan-Nya sempurna. Dia-lah Asy Syarif (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna. Dia-lah Al ‘Azhim (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna. Dia-lah Al Halim (Maha Pemurah) yang kemurahan-Nya itu sempurna. Dia-lah Al ‘Alim (Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya itu sempurna. Dia-lah Al Hakim (Maha Bijaksana) yang sempurna dalam hikmah (atau hukum-Nya). Allah-lah –Yang Maha Suci- yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Sifat-Nya ini tidak pantas kecuali bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Al A’masy mengatakan dari Syaqiq dari Abi Wa’il bahwa Ash Shomad bermakna:{ الصَّمَدُ } السيد الذي قد انتهى سؤدده

”Pemimpin yang paling tinggi kekuasaan-Nya”. Begitu juga diriwayatkan dari ’Ashim dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud semacam itu.

Malik mengatakan dari Zaid bin Aslam, ”Ash Shomad adalah As Sayyid (Pemimpin).”

Al Hasan dan Qotadah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الباقي بعد خلقه) Yang Maha Kekal setelah makhluk-Nya (binasa).

Al Hasan juga mengatakan bahwa

Ash Shomad adalahالحي القيوم الذي لا زوال له

Yang Maha Hidup dan Quyyum (mengurusi dirinya dan makhlukNya) dan tidak mungkin binasa.

’Ikrimah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah yang tidak mengeluarkan sesuatupun dari-Nya (semisal anak) dan tidak makan.

Ar Robi’ bin Anas mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الذي لم يلد ولم يولد) yaitu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat sesudahnya dan ini tafsiran yang sangat bagus.

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ’Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ’Atho’ bin Abi Robbah, ’Athiyyah Al ’Awfiy, Adh Dhohak dan As Sudi mengatakan bahwa

Ash Shomad adalah (لا جوف له) yaitu tidak memiliki rongga (perut).

Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobroni dalam kitab Sunnahnya -setelah menyebut berbagai pendapat di atas tentang tafsir Ash Shomad- berkata, ”Semua makna ini adalah shohih (benar). Sifat tersebut merupakan sifat Rabb kita ’Azza wa Jalla. Dia-lah tempat bersandar dan bergantung dalam segala kebutuhan. Dia-lah yang paling tinggi kekuasaan-Nya. Dia-lah Ash Shomad tidak ada yang berasal dari-Nya. Allah tidak butuh makan dan minum. Dia tetap kekal setelah para makhluk-Nya binasa. Baihaqi juga menjelaskan yang demikian.” (Diringkas dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Wallahu a’lam bisshawab

sumber tafsir: rumaysho.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *